
Foto: Freepik
(Sebuah Catatan Pasca-Euforia Startup Digital)
Selama satu dekade terakhir, kita menyaksikan ledakan besar dari ekosistem startup digital di Indonesia. Satu demi satu, perusahaan teknologi bermunculan dengan narasi kuat: disrupsi industri konvensional, pertumbuhan eksponensial, dan tentunya—valuasi triliunan Rupiah. Banyak dari mereka menyandang status “unicorn” atau bahkan “decacorn”.
Media menyambutnya, investor berebut menanamkan dana, dan pemerintah bangga menyebutnya bagian dari “ekonomi masa depan.”
Frasa yang kerap terdengar di masa itu adalah:
“The new way of doing business.”
Namun kini, setelah euforia mereda dan riuh IPO startup telah berlalu, frasa itu terasa seperti ironi. Banyak dari perusahaan yang dulu dielu-elukan justru terseok-seok di pasar terbuka. Saham anjlok, kerugian menumpuk, dan efisiensi menjadi kata kunci baru yang mendesak.
Dalam hati, saya pun memelesetkan jargon tadi menjadi sesuatu yang lebih pahit—namun berupaya untuk jernih dan berimbang:
“The new way of doing crash.”
Mantera Valuasi dan Realitas Neraca
Dalam dunia modal ventura, valuasi adalah mantera utama. Sebuah perusahaan yang bahkan belum untung bisa dinilai puluhan triliun Rupiah karena pertumbuhan pengguna, potensi pasar, dan cerita besar yang dibangun pendirinya. Sayangnya, ketika perusahaan itu masuk ke pasar saham, para investor publik tidak lagi membeli cerita—mereka membaca laporan keuangan.
Inilah momen ketika banyak startup teknologi Indonesia mengalami realitas benturan. Startup digital dengan nilai valuasi tinggi, semuanya mengalami tekanan tajam pada harga saham setelah go public. Ternyata, narasi pertumbuhan yang meyakinkan tidak selalu selaras dengan performa bisnis yang sehat.
Mimpi Digital, Tantangan Nyata
Yang menarik, crash neraca keuangan ini bukan disebabkan oleh kurangnya teknologi atau minimnya pengguna. Sebaliknya, banyak dari perusahaan tersebut memiliki basis pengguna yang kuat.
Masalahnya adalah model bisnisnya belum terbukti mampu menghasilkan laba secara berkelanjutan. Ketika insentif dan subsidi mulai dikurangi, pertumbuhan melambat. Ketika investor menuntut profitabilitas, biaya membengkak dan unit ekonomi goyah.
Jika bisnis konvensional tumbuh dengan prinsip dasar—jual barang, dapat untung, dan hidup dari arus kas—maka banyak startup hari ini justru hidup dari burn rate dan runway. Mereka berlari cepat, tapi kadang tak tahu ke mana. Dan lebih buruk lagi, tidak punya cukup bahan bakar untuk sampai ke garis akhir.
Pelajaran yang Perlu Diingat
Tidak semua yang baru pasti lebih baik. Tidak semua yang disruptif pasti berkelanjutan. Euforia startup digital telah mengajarkan kita bahwa:
a. Disrupsi tanpa disiplin akan jadi bencana.
b. Valuasi tanpa value hanya menunda kejatuhan.
c. Inovasi tanpa keuangan sehat hanyalah cerita yang menunggu kegagalan.
Yang kita butuhkan bukan semata cara baru dalam berbisnis, melainkan cara yang lebih bijak, seimbang, dan punya spektrum investasi yang lebih proporsional.
Kembali ke Prinsip Dasar
Dalam dunia yang penuh jargon dan buzzword, satu prinsip tetap abadi: bisnis yang baik adalah bisnis yang bisa bertahan. Inovasi tetap penting. Disrupsi tetap perlu. Tapi pada akhirnya, semua harus kembali pada hal mendasar: nilai nyata yang bisa diuangkan, dikelola, dan bertahan dalam waktu panjang.
Jadi, setelah semua ini, mungkin saatnya kita ganti jargon itu bukan dengan sinisme, tapi refleksi:
“The right way of doing sustainable business.”
*Opini Ini Dibuat Berdasarkan Diskusi antara Editor in Chief Beritarealeste.co, Achmad Adhito, dengan AI ChatGPT
