OPINI: ‘Gadis Besi’ di Jalan Raya, Kisah Pramugari Bus dan Peta Baru Kehidupan*

Foto Ilustrasi/Freepik

Di sebuah terminal bus yang mulai lengang saat senja turun, sekumpulan pemuda tampak berkerumun di depan sebuah bus mewah. Bukan karena busnya baru keluar dari karoseri terkenal atau punya desain bodi mencolok.


Berdiri di sana dengan kamera ponsel menyala, para YouTuber itu ternyata menyorot seorang gadis belia yang sedang beraktivitas di kabin depan bus itu, yakni Eve, pramugari bus yang viral di TikTok dan YouTube.

Ya, Eve dan pramugari bus lainnya memang belakangan ini populer di media sosial. Bahkan media arus utama termasuk televisi nasional, ada yang memberitakan kiprah mereka.

Eve meneruskan pekerjaan sambil sedikit ‘salting’—salah tingkah—mungkin tak menyangka bahwa pekerjaannya kini membawanya ke dunia yang baru: dunia kamera, sorotan, dan decak kagum orang.

Eve bukan satu-satunya. Ia bagian dari gelombang baru gadis-gadis muda, Gen Z perempuan, yang menjelajah jalan raya bukan sebagai penumpang, melainkan sebagai pengelola pengalaman orang lain. Mereka bekerja sebagai pramugari bus super eksekutif, menjelajah antar kota, melintasi malam, dan menyapa penumpang dengan senyum profesional.

Tapi di balik seragamnya, mereka adalah cermin dari perubahan zaman—generasi yang menjadikan jalan raya sebagai peta kehidupan baru.

Ruang Baru

Sebagian dari mereka sebelumnya bekerja sebagai barista, SPG mal, staf toko, dan lain-lain. Berpindah ke profesi pramugari bus bukan karena kehabisan pilihan, melainkan ingin menjajal pengalaman baru.

Di usia yang masih muda—rata-rata awal 20-an atau bahkan kurang dari itu—dan belum terikat tanggung jawab rumah tangga, mereka memilih mobilitas sebagai gaya hidup. Bertugas jauh dari kampung halaman, tidur di kota lain, dan menyambut pagi atau pun malam di atas aspal panjang Pulau Jawa.

Dalam wawancara di kanal YouTube atau TikTok, banyak dari mereka menyebut pekerjaan ini bukan hanya soal gaji, tapi juga tantangan dan petualangan. Menghadapi penumpang dari berbagai latar belakang, mengelola pelayanan di tengah perjalanan malam, bahkan harus tetap tampil rapi dan ramah di tengah kantuk dan lelah.

Melawan Stigma Gen Z

Di tengah cibiran umum yang menyebut Gen Z sebagai generasi rapuh, mudah menyerah, dan serba instan, gadis-gadis ini justru membuktikan ketangguhan dari jalan raya. Mereka bekerja dalam kondisi tak selalu nyaman, melintasi kota tanpa ritme kerja 9-to-5, menghadapi kamera dan netizen, sekaligus menjaga profesionalisme pelayanan.

Mereka bukan generasi yang menuntut dimanja. Ya, merekalah generasi yang memilih jalan, menyusunnya sendiri, dan menjadikannya panggung pembuktian diri.

Menjaga Bus, Menjaga Citra

Dengan kabin eksklusif yang kini setara kelas bisnis maskapai, kehadiran pramugari bus menambah elemen pelayanan yang dulunya hanya milik udara. Tapi menariknya, pramugari seperti Eve tak hanya menjaga kenyamanan fisik penumpang—ia juga menjaga citra baru transportasi darat.

Profesionalisme, senyum, dan seragam yang rapi, menciptakan aura “berkelas” di dalam bus. Banyak penumpang mengaku kembali naik bus karena merasa “diperhatikan”—dan itu lebih dari sekadar jok yang empuk.

Kehangatan dan Perlindungan

Dalam dunia transportasi darat yang dikenal sangat maskulin—dengan awak bus yang kebanyakan pria, seringkali dianggap tegas bahkan keras—kehadiran pramugari membuka ruang emosional yang berbeda. Para pria awak bus, yang sehari-hari mengatur perjalanan, kendaraan, dan operasi teknis, ternyata merespons kehadiran para pramugari dengan hangat dan memberi perlindungan.

Momen-momen kecil seperti mengajak pramugari makan bersama-sama, berbincang santai di sela-sela perjalanan, atau memberi nasihat penuh perhatian, memperlihatkan peran “ayah” dan “kakak” yang dijalankan secara natural.

Hal ini bukan hanya soal hubungan kolega, tapi simbol penyambutan aspek feminin di lingkungan kerja yang selama ini identik maskulin.

Dengan demikian, kehadiran pramugari tidak hanya mengubah citra bus dari luar, tapi juga mengubah kultur internal di dalam kabin dan awak bus—membuka ruang bagi keseimbangan antara maskulinitas dan feminitas, profesionalisme dan kehangatan.

Viral Tanpa Platform Sendiri

Ironi kecil muncul di balik sorotan itu. Selain sebagai pramugari bus, Eve dan rekan seprofesinya bisa dikatakan sudah menjadi brand ambassador atau duta merek untuk perusahaan mereka. Tetapi, meski viral di video orang lain, akun media sosial pribadi Eve justru terbilang sepi.

Ia mungkin tidak punya cukup waktu untuk membuat konten sendiri, atau sekadar membalas komentar. Dalam hal ini, Eve mencerminkan banyak pekerja yang terkenal tapi tak sepenuhnya menguasai narasi tentang dirinya sendiri.
Popularitasnya milik orang lain, padahal potensi pengaruh dan monetisasi sangat besar jika ia dibantu, misalnya, oleh seorang manajer konten.

Ruang Baru

Namun lebih dari soal viralitas, kisah para pramugari bus ini menandai satu hal penting: perempuan muda hari ini makin berani menjelajah ruang. Bukan hanya ruang domestik atau kantor formal, tapi juga jalan raya, kabin bus, dan ruang digital.

Mereka tampil di antara dunia nyata dan layar, melintasi batas profesi dan popularitas, sambil tetap menjalankan tugas mereka dengan disiplin.

Beberapa bahkan mendapat kesempatan naik jenjang—ada yang direkrut sebagai pramugari kereta cepat. Sebuah lompatan yang membuktikan bahwa kerja keras tak hanya membawa ke kota lain, tapi juga ke level hidup berikutnya.

Jalan Raya sebagai Ruang Belajar

Bagi banyak orang, jalan raya adalah jalur menuju tujuan. Tapi bagi gadis-gadis Gen Z ini, jalan raya adalah ruang belajar, ruang hidup, dan ruang pencarian makna.

Mereka menjelajahinya bukan dengan mobil pribadi atau pesawat—tapi dengan seragam, senyum, dan langkah profesional di atas aspal.

Di sinilah, peta kehidupan baru terbentuk. Tak selalu lurus, tak selalu nyaman, tapi selalu membawa cerita dan harapan.


*Editor Senior Beritarealestate.co, M. Tantio, Menyusun Opini Ini Berdasarkan Diskusi dengan AI (artificial intelligence/kecerdasan buatan) ChatGPT.

Tinggalkan Komentar Anda