Balada Frankenstein di Pro-Kontra Transportasi Online*

Posted on Updated on

Monster Frankenstein (Sumber: Istimewa)

 

 

 

 

 

 

 

Oleh Achmad Adhito

Wah, bukan main, kemelut transportasi online di Indonesia, ternyata sejauh ini belum berujung pangkal. Terakhir kali, setelah pihak regulator mengumumkan ketentuan baru tentang transportasi online, pro-kontra masih bermunculan. Penolakan ataupun keberatan muncul dari konsumen ataupun pelaku transportasi online.

Di sisi lain, sampai hari ini, penolakan terhadap hadirnya kendaraan transportasi online, masih muncul di sejumlah kota ataupun kawasan kecil. Memang, pro-kontra ini merupakan bauran dari berbagai aspek besar seperti sosial, ekonomi, dan lain-lain. Dan perbauran itu menyulitkan kita menentukan titik persoalan secara jernih, bukan?

Jebakan Frankenstein

Kini, penulis ingin mengajak pembaca yang terhormat untuk kembali mengingat monster Frankenstein. Semua tentu pernah mendengar karakter fiktif itu, bukan? Itu adalah monster dalam novel berjudul Frankenstein, yang ditulis oleh Mary Sherley.

Diciptakan dari kumpulan serpihan tubuh manusia yang dijahit dan “diaktivasi” lewat petir, monster itu dirancang oleh Victor Frankenstein. Sang monster lalu muncul sebagai sosok yang dingin, tidak kenal rasa kemanusiaan. Dan yang paling mengenaskan, monster itu muncul sebagai sosok yang tak bisa lagi dikendalikan oleh perancangnya. Monster itu berbalik menerkam perancangnya.

Lantas, apa hubungan monster itu dengan pro-kontra transportasi online? Begini, izinkanlah penulis mengidentikkan sistem ekonomi kapitalistik dengan Victor Frankenstein. Persamaan mereka adalah sebagai berikut: sama-sama tidak lagi bisa mengendalikan rancangannya, dan dimangsa sendiri oleh monster rancangan mereka.

Kita semua tahu bahwa, di sistem kapitalis yang kini menjadi hegemoni tunggal bagi dunia, ada satu asas yang sangat dijunjung tinggi. Yakni, persaingan dan kompetisi bebas.

Dalam hal ini, tokoh klasik seperti Adam Smith, dulu berpendapat bahwa biarkanlah pasar bertarung sebebas-bebasnya tanpa campur tangan negara. Nantinya, keteraturan pasar akan terjadi dengan sendirinya melalui sebuah tangan tidak terlihat. Negara jangan turut campur karena keteraturan akan terjadi dengan sendirinya dari pertarungan sengit itu.

Memang, ada banyak variasi dari asas tersebut, dalam sejarah yang panjang. Dan ujung-ujungnya, kini, negara pun tidak melepaskan begitu saja iklim bisnis apapun kepada pasar bebas. Negara hadir dalam bentuk regulasi untuk menertibkan pertempuran bisnis di mana pun.

Akan tetapi, kita bisa mengatakan bahwa, pada intinya, pertarungan ataupun kompetisi dahsyat, menjadi inti dari iklim bisnis di hampir seluruh negara di dunia ini.

Di situ, kata kunci seperti efisiensi, efektivitas, perluasan pasar, menjadi kata kunci nan maha-ampuh, bukan? Dalam era bisnis belakangan ini, ‘efisiensi’ muncul dari adanya teknologi informasi (TI) sebagai peranti bisnis yang dahsyat. TI mampu mengubah total lanskap bisnis, dan menghadirkan efisiensi bisnis ataupun perluasan area bisnis, secara cepat plus mencengangkan.

Ada banyak contoh panjang tentang hal itu. Banyak bukan, bank yang tidak lagi perlu menghadirkan banyak petugas front office karena menyediakan banyak mesin ATM? Banyak bukan, perusahaan media yang tidak lagi perlu menyewa ruang kantor luas karena para wartawannya bisa bekerja dari mana pun untuk menghadirkan tulisannya di dunia maya? Dan banyak bukan, distributor produk ritel perorangan yang tidak perlu punya toko secara fisik, karena punya toko online?

Itu semua adalah hadirnya efisiensi bisnis—yang muncul via TI—dalam ekonomi kapitalistik. Dan semua itu adalah anak kandung dari persaingan bebas yang mengharuskan adanya efisiensi bisnis.

Tatkala ada perusahaan berbasis TI yang bisa mengalahkan perusahaan konvensional di bidang yang sama, merekalah yang mencicipi tuah efisiensi itu. Tatkala ada perusahaan media berbasis internet yang jumlah pembacanya mengalahkan perusahaan media cetak, merekalah penikmat awan persaingan bebas itu.

Yang ironi, di saat terjadinya efisiensi oleh TI itu, kebingungan pun muncul dari sesama pelaku ekonomi kapitalistik karena pangsa pasar mereka tergerus banyak. Ingat bukan, bahwa seorang guru besar dari kampus elite di Indonesia, menyatakan bahwa sepinya ruang belanja modern, gara-gara banyaknya bisnis online? Ingat bukan, ketika sebuah perusahaan media besar menutup banyak unit bisnis media cetak karena derasnya arus pemberitaan via media online yang membuat masyarakat banyak mengurangi membeli media cetak?

Hal serupa sebenarnya terjadi di dalam ranah transportasi. Ya, begitulah, ketika ada pihak yang dengan gesit menghadirkan transportasi lewat [pemesanan] online, lanskap transportasi jarak dekat di Indonesia berubah. Betapa tidak, menawarkan keefisienan pemesanan dan tarif, transportasi online sontak mengubah total lanskap bisnis.

Efisiensi pemesanan muncul karena konsumen bebas-nyaman memesan dari mana pun, dari telepon genggam cerdas. Semua bisa dikalkulasi akurat dari telepon ajaib itu, sedari lokasi kendaraan yang dipesan, tarif yang nantinya harus dibayar, saldo pembayaran, pengaduan, dan lain-lain.

Dan bagi pihak perusahaan, efisiensi muncul karena berbagai biaya seperti gaji karyawan, perawatan kendaraan, penyediaan garasi-bengkel-montir dalam jumlah besar, bisa ditiadakan. Pelaku transportasi online pun muncul sebagai kampiun dari sebuah iklim persaingan bebas dalam sistem kapitalistik.

Akan tetapi, yang ironi, disinilah sebuah jebakan monster Frankenstein telah dihadirkan oleh sistem kapitalistik. Asas persaingan bebas demi lahirnya pemenang, ternyata tiada ubahnya monster Frankenstein yang tak terkendali bahkan oleh perancangnya.

Dalam hal ini, efisiensi di transportasi online, merangsek pelaku kompetisi bebas lainnya, yakni perusahaan besar penyedia taksi konvensional; hal ini sebelumnya juga terjadi dalam hal ojek online vis a vis ojek pangkalan.

Selanjutnya, di titik ini, kita paham bahwa iklim persaingan sebebas-bebasnya ternyata tidak berhasil menjamin adanya “keteraturan dengan sendirinya”, bukan?

Dan inilah hal yang, menurut hemat penulis, cukup janggal. Sistem itu mendewakan keunggulan dalam suatu persaingan bebas. Dan pemenang yang muncul adalah mereka yang terefisien, terbaik strateginya, serta lain-lain sejenisnya.

Tetapi, di saat ada pelaku yang masuk dan berpotensi menang karena efisiensi via TI dan economy sharing dalam transportasi online, penolakan terhadap persaingan bebas muncul dari pelaku lainnya. Proteksi atau bahkan pelarangan, diharapkan muncul dari negara.

Tidakkah sejatinya, sebagai penjunjung tinggi persaingan bebas, kita bisa mengatakan, “Salahnya sendiri, kenapa tidak bisa seefisien dan sekreatif transportasi online?”

Inilah ironi sistem kapitalistik: memunculkan pemenang yang lantas ditolak oleh pelaku lainnya, dan negara harus hadir untuk menengahi. Ternyata, sistem kapitalistik itu sering menghadirkan sosok Frankenstein yang diresistensi oleh sesama pelaku bisnis lainnya. Sangat ironi, karena penjunjung tinggi persaingan bebas—khususnya pada perusahaan taksi konvensional– ternyata pada akhirnya menjadi Victor Frankenstein yang menolak hal tersebut.

Dan, sekali lagi menurut hemat penulis, ketidakberdayaan sistem kapitalistik dalam menyelesaikan sejumlah persoalan ekonomi dunia saat ini seperti perlambatan ataupun resesi yang berulang kali terjadi, adalah bentuk lain dari “jebakan Frankenstein” tersebut.

Sistem kapitalistik berlari cepat memacu pertumbuhan ekonomi di seantero dunia, berbasiskan spekulasi yang sangat tinggi. Dan ujung-ujungnya terlihat sulit menyelesaikan persoalan besar seperti ketimpangan, kemungkinan resesi/perlambatan yang senantiasa menganga lebar dan berulang, dan lain-lain. Victor Frankenstein menciptakan monster yang lantas sulit dikendalikan, bukan? Apa yang terjadi dalam pro-kontra transportasi online di Indonesia, sejatinya hanyalah kepingan kecil dari persoalan besar sistem kapitalistik.

Akhir kata, bagaimana sejatinya jalan terbaik untuk meredam potensi munculnya “Frankenstein baru” ataupun Victor Frankenstein lainnya? Bagaimana jalan terbaik untuk adanya persaingan bebas yang seadil-adilnya dan memuaskan semuanya?

Ataukah, memang dalam sistem kapitalistik, hadirnya Frankenstein itu memang suatu keniscayaan? Ataukah kita harus menyimpulkan bahwa, dalam sistem kapitalistik alias persaingan bebas, “ ironi Frankenstein” adalah sebuah keniscayaan, dan semua orang harus siap senasib dengan Victor Frankenstein? Seperti biasanya, sang waktu akan menjawab semuanya.

*Penulis, adalah Wartawan Ekonomi-Bisnis dan Kolumnis Properti. Tulisan Ini adalah Pendapat Pribadi Penulis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s