OPINI: Mencermati “Mimesis Bisnis”

Foto: Freepik

Oleh Achmad Adhito

Lihat ke anak-anak sekeliling lingkungan kita. Mereka serba spontan dalam banyak hal, sering belum kenal batasan-batasan norma interaksi seperti halnya orang dewasa—pihak inilah yang sejatinya ‘menyuntikkan’ norma itu.

Ketika orang dewasa mengatakan satu hal positif, anak-anak pun spontan meniru, spontan menduplikasi. Hal ini tentu baik.

Yang repot adalah ketika orang dewasa melakukan sesuatu hal yang negatif, seperti menstigma, mencerca, dan mengolok-olok. Pasalnya, ketika pancaindera anak-anak menyerap hal tersebut, duplikasi/spontanitas pun terjadi. Kalau sudah seperti itu, salah siapa? Baiknya kita tanyakan ke rumput yang bergoyang?

Nah, duplikasi spontan seperti itu, diistilahkan oleh Eric Fromm sebagai berikut: mimesis. Ini merupakan kecenderungan setiap orang untuk meniru tanpa berpikir rasional—hal ini terjadi tanpa disadari.

Yang mengejutkan bagi kita, ada lagi. Yakni bahwa Fromm, seorang ahli psikoanalisis dan pemikir sosial, menyatakan bahwa mimesis bukan hanya dilakukan anak-anak. Benar, orang dewasa pun mempraktikkan mimesis.

Tak percaya? Oke mari kita telaah barang sejenak. Hari ini, Anda ngopi di satu kafe eksklusif bareng rekan bisnis? Benarkah hal itu benar-benar orisinil ide Anda? Tidak, karena Anda dan sang rekan menduplikasi hal yang lazim dilakukan orang lain, bukan?

Banyak contoh lain mimesis, tentu saja. Sedari meniru gaya berbicara seseorang tokoh, mengikuti tren busana, dan lain-lain.

Tetapi sudahlah, tak usah berdebat tentang ini. Pasalnya, mimesis memang pasti ada pada dunia ini, terjadi sedari pada anak-anak, sampai orang dewasa. Yang perlu kita lakukan adalah ini: meletakkan ‘tren mimesis’ tersebut, pada proporsi yang sesuai, termasuk dalam praktik bisnis.

Jebakan Mimesis

Sudah tentu ada banyak konsep atau pun taktik yang dipakai kalangan bisnis dari segala level, bukan? Hal tersebut, contohnya sebagai berikut: ekspansi bisnis, diversifikasi produk, segmentasi konsumen/produk, diferensiasi produk, dan sudah tentu masih banyak lagi yang lain. Agar bisnis terus berkembang, konsep atau pun taktik seperti itu harus terus diimplementasikan dengan cermat. Walhasil, skala bisnis terus membesar.

Tetapi, agaknya ada hal yang perlu lebih disaksamai. Yaitu, dalam mengimplementasikan semua ‘tongkat aladin’ untuk laju bisnis tersebut, ada sebuah ‘jebakan mimesis’—-ini adalah istilah dari penulis opini/kolom ini.

Dalam hal tersebut, secara sederhana dapat dikatakan seperti ini: konsep atau pun taktik bisnis yang berjalan, ternyata sekadar merupakan duplikasi dari apa yang sudah banyak dilakukan para pemain di pasar. Tidak ada sesuatu yang baru dan berarti bagi pertumbuhan bisnis oleh sebab hanya bergulir di atas “rel duplikasi”. Sebuah “jebakan mimesis” pun terjadi. Dan adalah terbilang berat untuk menumbuhkan bisnis dalam situasi tersebut, karena berada dalam pasar yang tak ubahnya mobil-mobil yang terperangkap kemacetan lalu-lintas.

Adakah ilustrasi seperti itu? Kini kita telaah dalam cakupan industri media. Basis konsumen industri media di RI memang besar, dan hal tersebut bisa tercermin dalam berbagai indikator kunci seperti jumlah penduduk usia produktif, tidak buta huruf, mengakses internet, dan lain-lain.

Maka sekilas, berdasarkan indikator seperti itu, bisa didapatilah kesimpulan ini: industri media masihlah pasar gemuk.

Maka tak heran ketika modal besar dari domestik atau pun luar, mau masuk dengan keyakinan tinggi ke industri tersebut. Ketika mengingat pemikiran Alvin Toffler bahwa kelak yang berkuasa adalah pihak yang menguasai arus informasi, keyakinan itu absah saja, bukan?

Adapun wujudnya adalah media dengan area cakupan nasional yang berpotensi mendatangkan basis konsumen dalam jumlah raksasa. Dari sini, diprediksikan akan ada pendapatan yang signifikan.

Akan tetapi, ternyata sebuah “jebakan mimesis” bisa terjadi dalam hal itu. Apa yang disebut sebagai “pasar gemuk” tersebut telah berubah menjadi pasar yang lebih terfragmentasi, terpecah-pecah, dan lebih terspesifikasi. Dan modal raksasa pun bisa bersua dengan fakta seperti ini: “rapor biru” dalam jumlah basis konsumen/pemirsa/pengakses, namun ada “rapor merah” dalam neraca keuangan.

Hal tersebut karena, dalam belanja iklan, para produsen telah bertemu dengan banyak kanal alternatif. Contohnya adalah media sosial, media kawasan, media luar ruang, media dengan segmen pasar sangat spesifik, dan lain-lain.

Yang menarik, kanal alternatif seperti itu banyak yang berpotensi atau pun telah mencetak kondisi finansial yang sehat—sekalipun dikenal sebagai kanal “apa itu”.

Itu adalah contoh dari satu sektor industri. Tentu ada banyak contoh dari sektor industri lain, bukan?

Semisal, dalam sektor properti, para developer sering ramai masuk ke kawasan tertentu yang sebenarnya sudah jenuh dalam hal serapan pasar.
Dan tentu, di sela “lautan mimesis” tersebut, ada pemain bisnis yang bisa tetap mendulang “rapor biru” laporan keuangan.

Terlepas dari itu, dalam pasar bisnis yang semakin sesak oleh pemain dari berbagai tingkatan, ada hal yang perlu dilakukan: perlunya meletakkan perilaku mimesis secara proporsional. Meniru itu pasti, namun jangan asal meniru.

Tinggalkan Komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s