
Freepik/Kate Mongostar
Oleh Budi Santoso
Ini bukan nama sepasang kekasih yang lagi dilanda asmara. Bukan pula nama sepasang suami-istri yang telah menjalani bahtera rumah tangga puluhan tahun.
Nama ini kependekan dari Rombongan Jarang Beli (Rojali) dan Rombongan Hanya Nanya (Rohana). Rojali-Rohana memang telah menjadi trending di jagad maya dan dunia nyata sehingga banyak mendapatkan respons dari lembaga negara serta para petinggi negeri.
Menteri Perdagangan Budi Santoso, misalnya, menanggapinya sebagai sesuatu yang bukan hal baru dan merupakan bagian dari perilaku konsumen yang wajar di era digital. Masyarakat memiliki kebebasan untuk memilih belanja secara offline atau online (indonesiainside.id/24 Juli 2025).
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pun meminta publik tidak menjadikan fenomena Rojali-Rohana sebagai bahan lelucon. Sebab, ini menjadi pukulan bagi seluruh pihak, karena perekonomian masyarakat sedang tidak baik-baik saja (inilah.com/6 Agustus 2024).
Sementara sejumlah pakar dan pelaku bisnis turut pula berkomentar, bahwa penyebab fenomena Rojali-Rohana di antaranya adalah: daya beli rakyat yang melemah, pergeseran belanja secara online yang lebih marak, dan perubahan pola konsumsi di mana masyarakat lebih memprioritaskan kebutuhan dasar/primer ketimbang sekunder atau tersier.
Dalam persfektif bidang properti, apa yang bisa dibahas dari fenomena Rojali-Rohana ini?
Pada tahun 1990-an hingga awal tahun 2000-an, ketika kota-kota besar banyak berdiri pusat perbelanjaan atau mall, muncul suatu fenomena yang disebut Window Shopping. Fenomena ini menunjukkan banyak warga yang mendatangi mall, lalu melihat barang yang dipajang di setiap toko/gerai tanpa harus masuk ke dalam untuk membelinya.
Banyak faktor yang menyebabkannya, dan yang paling umum adalah sebagai rekreasi, cuci-mata sekaligus olahraga dengan berkeliling mall. Faktor lain adalah harga yang dipajang relatif mahal, sehingga kebanyakan pengunjung akan berpikir dua kali untuk membelinya.
Di samping itu, hampir setiap tahun selalu ada mall baru yang dibuka, dan itu membuat khalayak tertarik untuk datang, apakah ada perbedaan dan kelebihan fasilitas yang disediakan dibanding mall-mall lain yang pernah dikunjungi. Soal berbelanja tidak terlalu penting, kecuali ada diskon yang menggiurkan. Bagi sebagian warga, berkunjung ke mall, baik yang baru maupun lama, melakukan Window Shopping seolah telah memperoleh “sensasi” tersendiri walaupun tidak harus membeli barang yang tersedia di mall.
Kendati demikian, setiap mall punya segmen pembeli sendiri. Ada untuk kalangan borjuis, kalangan menengah-atas hingga kalangan menengah-bawah, dan itu membuatnya tetap dikunjungi dan tetap ada yang berbelanja. Mereka akan merasa bangga bila mampu membeli sesuatu barang di mall tertentu.
Hanya saja, seiring perjalanan waktu jumlah mall semakin banyak. Di kota metropolitan Jakarta sedikitnya terdapat 96 mall, ditambah lagi di wilayah sekitarnya (Bodetabek) yang juga tidak kalah banyak. Inilah yang membuat pesaingan antar mall kian ketat. Bagi mall yang tidak mampu melakukan upgrade fasilitas dan fitur di dalamnya, bisa ditebak akan ditinggal oleh penyewa (tenants) maupun pembeli. Mall tersebut lambat-laun akan sepi dan “mati suri”. Sebut saja sebagai contoh: Plaza Semanggi, Ratu Plaza, Pluit Juction, Grand Paragon, Serpong Plaza dan Grand Mall Bekasi.
Fenomena Window Shopping dan Rojali-Rohana sebenarnya punya kemiripan, yakni kondisi mall tetap banyak dikunjungi warga, tapi pembelinya tidak sebanyak yang diharapkan.
Bedanya untuk kondisi yang terjadi saat ini tampaknya pada dua hal. Pertama, mereka yang berkunjung kebanyakan ingin membandingkan harga dan kualitas barang yang tersedia di mall, kemudian mereka lebih membelinya secara daring melalui marketplace seperti Shoppee, Lazada, Blibli dan sejenisnya. Di sinilah muncul meme yang bernama “Roseline” alias Rombongan Survei Sebelum Beli Online.
Kedua, kondisi daya beli (purchasing power) masyarakat yang memang tengah anjlog dalam beberapa tahun terakhir. Apalagi keadaan ekonomi nasional lagi lesu, utang negara menumpuk, APBN tekor, pengangguran meningkat dan badai PHK masih berlanjut.
Benar apa yang dinyatakan oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, bahwa munculnya istilah Rojali-Rohana harus dijadikan pengingat bagi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bisa lebih optimal.
Ya, tugas pemerintah harusnya seperti itu, di antaranya menciptakan iklim investasi yang kondusif, memperluas lapangan kerja dan menstimulus sektor properti agar daya beli masyarakat kembali meningkat. Pada akhirnya akan banyak warga yang sering berbelanja sekaligus berekreasi dan kongkow-kongkow di mall. *
