Apakah Anda tinggal di suatu kompleks real estat dan hendak merenovasi rumah secara besar, termasuk menambah luas bangunan, itu tentu hak Anda selaku pemilik rumah.
Terkait manajemen estat oleh pengembang ada satu hal perlu diperhatikan. Yakni terkadang ada manajemen tersebut yang tidak membolehkan gaya fasad (bagian depan rumah) diubah. Tujuan hal ini yakni agar di kompleks tersebut ada keseragaman tampilan rumah dari depan. (MT)
Sejumlah pengembang properti, telah beberapa waktu, menggelar renovasi sekaligus revitalisasi bangunan di Kawasan Kota Tua, Jakarta Utara. Aktivitas itu tak menghentikan aktivitas wisatawan di sana.
Pun, di libur panjang akhir pekan memeringati Maulid Nabi Muhammad SAW dan Natal 2015 kemarin, wisatawan lokal ataupun mancanegara membanjiri kawasan wisata tersebut.
Bicara Kota Tua saat itu, tak sekadar menyoal suasana jadul (jaman dulu) yang dicerminkan oleh bangunan kuno, tiruan meriam kuno, dan lain-lain. Betapa tidak, para seniman jalanan mewarnai Kota Tua dengan berbagai aksi yang bercorak kekinian. Maka tampillah mereka dengan tiruan robot, tokoh animasi, dan lain-lain.
Walhasil, hari itu di Kota Tua, pengunjung seolah sekaligus berada di dua alam: jadul dan masa kini. Ingin berwisata ke Kota Tua? Yuuk…mari. Baca Selanjutnya
Investasi properti itu menguntungkan—terlebih kalau dilakukan dalam jangka panjang. Tetapi, sudah jelas pula bahwa properti merupakan aset yang tidak likuid sehingga terkadang menyulitkan ketika pemiliknya perlu dana segar bernilai besar, dalam waktu singkat.
Bayangkan, dalam masa normal, penjualan properti hunian perlu waktu setidaknya dua bulan sampai tiga bulan; dalam masa stagnasi pasar properti seperti sekarang, waktu yang diperlukan untuk itu bisa lebih lama.
Lantas bagaimana ketika kini Anda punya dana memadai tetapi kuatir bahwa nantinya aset properti yang jadi alat investasi, sulit dijual sementara ada kebutuhan mendesak? Satu cara untuk itu yakni dengan memutar dana tersebut ke dalam pasar surat berharga, persisnya dengan membeli surat berharga keluaran perusahaan properti. Di sini, ada saham, EBA (efek beragun aset), dan lain-lain, yang bisa menjadi peranti investasi.
Surat berharga tersebut bisa menawarkan tingkat keuntungan memadai sekaligus bisa dijual dengan cepat sewaktu-waktu. Beberapa saham perusahaan properti, contohnya, bisa menawarkan tingkat keuntungan per tahun yang sama dengan tingkat kenaikan harga aset properti hunian di kala situasi normal.
Namun ingatlah, investasi melalui surat berharga selalu mengandung risiko kerugian yang bisa saja datang dengan cepat—misalnya ketika saham sebuah perusahaan properti harganya terus terkoreksi. (Dhi)
Apakah Anda tinggal di lokasi X di suatu kota, dan akan menjual rumah tinggal yang berada di lokasi Y yang jauh dari lokasi tersebut? Ada cara mudah memasarkannya, yakni menghubungi broker properti yang berada di lokasi tinggal Anda saat ini.
Broker tersebut nantinya bisa menggunakan sistem co-broking untuk memasarkan rumah tersebut. Broker itu akan menghubungi rekannya di lokasi Y—biasanya dalam satu merek waralaba yang sama—untuk kerja sama memasarkan rumah tersebut. Sudah tentu, rekan tersebut lebih menguasai area lokasi Y sehingga rumah Anda itu lebih lekas terjual.
Yang menguntungkan, tidak ada komisi tambahan yang mesti Anda keluarkan. Adalah para broker itu yang akan berbagi komisi yang didapat dari Anda selaku pihak penjual rumah. (Dhi)