KIAT: Upayakan Calon Pembeli Tak Berubah Pikiran

Ilustrasi: Istimewa

Saat sedang ada di kantor pemasaran properti yang Anda kembangkan, hampir pasti calon pembeli punya alternatif lain. Calon pembeli hampir pasti sudah atau akan membandingkan properti yang Anda pasarkan dengan kompetitor di wilayah yang berdekatan dari segi harga dan lain-lain.

Oleh karena itu, mendapatkan keputusan “ya” secepat mungkin dari calon pembeli, merupakan kata kunci penting. Perkecil kemungkinan ia berubah pikiran, dan tetap memilih properti Anda saat itu juga.

Ada beberapa hal bisa dilakukan untuk itu. Misalkan, bekali para tenaga pemasaran dengan kebolehan memberikan diskon atau bonus lain, dalam batasan tertentu; sebelumnya, diskon tersebut tidak dipromosikan.

Kemudian, mudahkan calon pembeli dalam pembayaran booking fee dengan fasilitas seperti pembayaran non-tunai seperti kartu debit, kartu kredit, dan lain-lain, di kantor pemasaran Anda.

Gunakan pula permainan psikologi untuk memerbesar kemungkinan calon pembeli menjatuhkan pilihan hari itu juga, ke properti Anda. Misalnya, layanan ringan namun menyenangkan perasaan seperti hadiah cindera mata dan sajian kuliner khas kepada calon pembeli yang baru datang, bisa berperan penting. (BS dan Dhi)

KIAT: Dua Alamat Kantor yang Efisien

Ilustrasi/Istimewa

Banyaknya layanan coworking space di Jakarta menguntungkan Anda yang ingin mendirikan bisnis baru dengan biaya efisien sekaligus berkantor di gedung/kawasan elite. Di sini, awalnya Anda perlu mendirikan badan hukum usaha seperti PT (perseroan terbatas) dengan alamat domisili di area sekunder, ruangannya pun tidak perlu besar.

Kemudian, setelah legalitas perusahaan diabsahkan pihak regulator, Anda bisa menyewa coworking space di gedung/kawasan elite, sebagai kantor operasional.

Maka Anda punya dua alamat kantor, yang pertama sebagai alamat domisili PT untuk keperluan tagihan pajak badan usaha dan lain-lain. Yang kedua dan yang biasanya dicantumkan di kartu nama, alamat di satu gedung/kawasan pusat kota via layanan coworking space; hal ini tentu sangat baik untuk prestis bisnis Anda. (Dhi)

KIAT: Sediakan Biaya Depresiasi Rumah

Ilustrasi/Istimewa

Bila memiliki rumah sendiri, pasti Anda sudah mengetahui bahwa umur bangunannya punya keterbatasan—sementara, nilai tanahnya selalu naik. Lazimnya, umur ekonomis sebuah bangunan adalah 20 sampai 30 tahun.

Maka, tidak ada salahnya bila tiap tahun Anda mengalokasikan biaya depresiasi aset bangunan, dalam perencanaan keuangan rumah tangga. Walhasil, ketika nantinya bangunan rumah mencapai usia 20 tahun sampai 30 tahun dan perlu renovasi besar atau bahkan dibangun ulang, Anda sudah punya dana untuk itu—-tidak perlu meminjam dana ke bank dan harus membayar biaya bunga kredit.

Bagaimana cara menghitung biaya depresiasi bangunan rumah? Sederhananya, perhitungkan kenaikan biaya konstruksi rumah per m2 dalam 30 tahun ke depan; kini rata-rata kenaikan biaya konstruksi adalah 4 persen sampai 5 persen per tahun.

Selanjutnya, setelah mendapatkan perkiraan biaya konstruksi per m2 dalam periode tersebut, kalikan dengan luas bangunan rumah. Lalu perolehan angka tersebut dibagi dengan angka 30 tahun; hasilnya adalah biaya depresiasi bangunan per tahun.

Terakhir, ada baiknya pula menanyakan hal ini kepada arsitek yang terampil menyusun RAB (rencana anggaran biaya) membangun rumah. (Dhi)

KIAT: Cermati Pasal “DP Hangus” di PPJB

Ilustrasi/Istimewa

Ketika Anda membeli hunian—rumah ataupun apartemen—yang belum selesai dibangun, sudah tentu harus menandatangani PPJB (perjanjian pengikatan jual-beli) dengan pengembang; setelah PPJB ditandatangani, barulah masuk ke proses akad kredit KPR (kredit pemilikan rumah) ataupun KPA (kredit pemilikan apartemen).

Sebagai konsumen, Anda perlu cermat memelajari PPJB agar tidak dirugikan. Satu pasal/poin yang sering dikeluhkan konsumen adalah ketentuan bahwa ketika gagal memenuhi syarat tertentu, segala dana yang telah dibayarkan ke pengembang seperti DP dan booking fee, tidak bisa dikembalikan atau hangus. Ada pula ketentuan bahwa bila gagal menambah nilai DP, pengembaliannya dipotong 30%.

Cermati, dan bila terasa nantinya memberatkan, jangan ragu untuk negosiasi dengan pengembang. Bila perlu, tanyakan kepada ahli hukum properti sebelum tanda tangan.

Ketika Anda membeli—misalnya—apartemen seharga Rp 350 juta, bukankah sangat disayangkan ketika DP senilai 70 juta (20%) harus hangus ataupun dipotong sebesar 30%? (Dhi)

KIAT: Paralelkan Kelas Hunian dengan Segmen Kawasan

Istimewa

Sesuaikan segmen properti hunian yang dikembangkan, dengan karakteristik segmen kawasan. Ketika hunian yang dikembangkan berharga—misalnya—Rp 800-an juta sementara karakteristik konsumen di area yang bersangkutan berdaya beli hunian Rp 500-an juta, apa yang terjadi?

 

Besar kemungkinan, hunian tersebut sulit dipasarkan.

Bila hal yang tidak diinginkan tersebut terjadi, satu hal bisa dilakukan. Yakni, positioning ulang harga hunian. Misalnya dengan memecah kavling 200 m2 untuk satu hunian, menjadi untuk dua rumah. Hingga harga per unit lebih murah, sesuai untuk segmen konsumen kawasan itu. (BS)